Menjadi Manusia Sejati
“Jalma Sejati, jalma kang tansah eling marang dalaning pati, sabar lan narimo wujuding seta ati, tansah sumeleh ing gisiking jalanidhi iman, taqwa kawit timur pinongko kunci sejati kang mbukak korining ngastana kelanggengan wiwit donya tumekaning delahan.”
Menjadi manusia yang sebenar-benarnya (jalma sejati),
atau manusia sejati merupakan sebuah usaha yang sulit. Diperlukan usaha
yang lebih untuk dapat mewujudkannya daripada sekedar belajar ilmu
keduniawian. Bahwa manusia merupakan pertemuan dua sifat, yaitu sifat
ketuhanan dan nafsu memang benar. Dengan adanya nafsu itulah manusia
menjadi makhluk Tuhan yang konon paling sempurna. Dengan nafsu manusia
mampu menjadi makhluk mulia melebihi malaikat, akan tetapi dengan nafsu
yang tak terkendali, nafsu yang diumbar, akan menjadikan manusia makhluk
yang bahkan lebih rendah daripada binatang. Itulah nafsu. Allah SWT
menjadikan nafsu sebagai alat ukur untuk mengamati tingkatan seseorang.
Kemudian sifat ketuhanan (sifat ilahi) yang ada pada diri manusia
sesungguhnya adalah sebagai pengontrol nafsu. Alat ini dipicu oleh akal,
yang juga merupakan salah satu faktor yang membuat manusia konon
merupakan makhluk Tuhan paling sempurna. Dengan akal manusia berpikir,
yang membuat manusia cerdas, mampu membedakan benar salah, halal haram,
ataupun hal-hal lainnya. Dengan akal manusia mampu mencari jawaban atas
pertanyaan-pertanyaan yang ada di benaknya, menguak misteri dunia,
memecahkan rahasia-rahasia Tuhan yang tersebar di dunia ini, dan
seterusnya, hingga memikirkan kematian.
Untuk menjadi manusia sejati, sebenarnya lebih dari kalimat
pembukaan di atas. Ada beberapa hal yang dapat dijadikan pertimbangan
bagi manusia untuk menjadi pribadi yang lebih baik.
(1) Cerdas
Seperti yang telah diutarakan di atas, bahwa dengan akal, manusia
mampu berpikir, dan kemudian membuat manusia cerdas. Dibutuhkan
kecerdasan untuk memikirkan segala hal di dunia ini. Halal haram, benar
salah, dan hal-hal lainnya.
Untuk menjadi cerdas, manusia perlu berusaha. Semua manusia
diciptakan untuk menjadi cerdas, asal mau berusaha, yaitu belajar dan
berdoa. Kecerdasan dunia (ilmu-ilmu duniawi) lebih mudah diraih daripada
kecerdasan spiritual. Butuh usaha yang lebih untuk memperoleh
kecerdasan spiritual. Pada intinya kecerdasan spiritual merupakan
penyeimbang kecerdasan duniawi, karena kecerdasan duniawi tanpa
kecerdasan spiritual menjadikan manusia cerdas tapi tidak mengenal iman.
Kecerdasan spiritual dapat diperoleh dengan mempelajari ilmu agama atau
kebudayaan (kearifan lokal).
(2) Sungguh-sungguh
Segala sesuatu diawali dengan niat. Dengan niat menjadikan manusia lebih sungguh-sungguh akan sesuatu.
(3) Sabar
Konsep “alon-alon waton klakon”
adalah sebuah nasihat yang baik bagi manusia. Buktinya konsep ini tidak
hanya ada di Indonesia, tapi juga ada di luar negeri (Inggris atau
Amerika), dengan slow but sure. Akan tetapi konsep ini sering
disalahartikan sebagai konsep pemalas. “Yang penting”, adalah pengertian
keliru yang selama ini melekat pada nasihat lawas ini.
Alon-alon waton klakon,
adalah pelajaran tentang kesabaran akan sesuatu. Segala sesuatu jika
dikerjakan dengan terburu-buru hasilnya tentu tidak baik. Pun dalam
menuntut ilmu. Bahwa bagaimana bersungguh-sungguh untuk mendapatkan
sesuatu, serta prosesnya, adalah yang ingin disampaikan oleh nasihat
ini. Sebagai contoh, mahasiswa yang mendapat nilai C, kemudian mengulang
tahun berikutnya hingga memperoleh nilai A atau B, itu adalah proses.
Dengan mengulang, seorang mahasiswa akan memperoleh pendalaman ilmu yang
belum terlalu dipahami. Itulah sebenarnya “alon-alon waton klakon”, sabar dalam segala hal.
(4) Modal
Modal, dalam hal ini adalah dana. Mengapa? Untuk menempuh pendidikan,
atau menuntut ilmu, tentunya membutuhkan dana yang tidak sedikit. Oleh
karena itu, jadilah manusia cerdas, karena kecerdasan mampu mendatangkan
rejeki.
(5) Guru
“nanging yen sira anggeguru kaki, amiliya manungsa kang nyata ingkang
becik martabate, sarta kang wruh ing kukum, kang ngibadah lan kang
wirangi, sukur oleh wong tapa, ingkang wus amungkul, iku pantes sira
guronono kaki, sartane kawruhana”
Satu lagi nasihat dari leluhur, bahwa guru adalah hal yang terpenting
untuk membentuk karakter manusia. Akan tetapi, tidak mudah untuk
mencari guru sejati. Guru sejati tidak hanya mengajar, tapi juga
mendidik. Dalam sebuah teori pendidikan, guru merupakan salah satu unsur
pembentuk karakter manusia, disamping lingkungan (keluarga,
masyarakat). Carilah guru yang pantas untuk digugu lan ditiru (dipatuhi dan ditiru), bukan guru yangwagu tur saru (tak pantas dan sembarangan).
Dalam tembang di atas, digambarkan untuk mencari guru sejati itu
sulit, terutama untuk era sekarang ini. Apalagi mencari guru yang baik
pekertinya, tahu sopan santun, yang beriman dan percaya kepada Tuhan,
guru yang kuat mental spiritualnya. Namun ketika menemukan guru yang
seperti itu, ambillah ilmu darinya.
(6) Waktu
Waktu
berhubungan dengan sabar. Tentunya untuk mencari ilmu yang lebih, tentu
membutuhkan waktu yang lebih baik, dan itu membutuhkan kesabaran yang
lebih. Carilah ilmu dari buaian sampai liang lahat, atau tuntutlah ilmu
sampai ke negeri Cina, adalah dua pesan Nabi Muhammad yang bisa
digunakan untuk menggambarkan aspek “waktu” ini.
sumber : The Mahisa Medari
Tidak ada komentar:
Posting Komentar